1. Distorsi (THD/THD N)
Distorsi harmonik total (THD): The penguat sistem suara akan menghasilkan harmonik (seperti 2f, 3f, dll.) di luar sinyal asli karena elemen nonlinier (seperti transistor), sehingga menghasilkan suara "duri".
Dampak --
Ketika THD>0,1%, telinga manusia dapat merasakan distorsi, seperti suara manusia yang serak dan hilangnya nada tambahan pada alat musik; amplifier Hi-Fi kelas atas memerlukan THD <0,01%.
THD N (Total Harmonic Distortion Noise): Kebisingan latar belakang sirkuit ditumpangkan, yang lebih mencerminkan pengalaman mendengarkan sebenarnya. Misalnya, THD N mungkin melonjak pada gain tinggi, sehingga menghasilkan latar belakang yang tidak bersih.
2. Rasio signal-to-noise (SNR): Menentukan kemurnian latar belakang
Definisi: Rasio kekuatan sinyal yang berguna terhadap kebisingan latar belakang (satuan: dB).
Dampak --
SNR <90dB: Kebisingan (seperti "gemerisik") dapat terdengar di jalur yang tenang, dan kompresi dinamis;
SNR> 110dB: Latar belakangnya seperti "tirai hitam", dan detail suara lemah jelas (seperti pernapasan dan senar gesekan busur).
Arah optimasi: Penyaringan catu daya dan komponen dengan kebisingan rendah (seperti tahap masukan JFET) dapat meningkatkan SNR.
3. Daya keluaran dan rentang dinamis
Nilai daya: Penting untuk mencocokkan sensitivitas speaker (seperti speaker 84dB membutuhkan> 50W, 90dB hanya membutuhkan 20W), menghindari tekanan yang terlalu rendah (suara lemah) atau kelebihan beban (speaker terbakar).
4. Faktor lainnya
Rasio penolakan catu daya (PSRR): Menekan gangguan riak catu daya, PSRR > 80dB dapat menghindari "dengungan".
Respon sementara (Slew Rate): Laju perubahan tegangan per satuan waktu (V/μs). Ketika <10V/μs, terjadi distorsi transien frekuensi tinggi (seperti retakan simbal menjadi tumpul).
Stabilitas suhu: Amplifier Kelas A melayang pada suhu tinggi, menyebabkan distorsi crossover (kerusakan frekuensi menengah).

中文简体









